Formula Nano Pupuk Hayati Kedelai Edamame: Ramah Lingkungan & Tingkatkan Hasil Panen

Kedelai edamame. - Istimewa
12 Oktober 2021 05:47 WIB LRI UMY Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Peneliti Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) membuat inovasi yang berhubungan dengan suatu formula Nano pupuk hayati padat untuk budi daya kedelai edamame. Hasil dari inovasi ini merupakan pupuk hayati yang mampu meningkatan hasil panen serta ramah lingkungan.

Kedelai edamame atau kedelai sayur merupakan kedelai berbiji besar, yang memiliki kadar protein yang tinggi yaitu sekitar 36%. Selain itu, kedelai ini memiliki produktivitas yang tinggi (10-12 ton/ha) dibandingkan jenis kedelai lainnya (1,5 – 3 ton/ha), serta masa tanam cenderung lebih pendek (65-68 HST) dari pada kedelai pada umumnya (80-90 HST).

Keunggulan kedelai edamame juga didukung dengan permintaan ekspornya yang cukup tinggi, menurut Balitbangtan pada tahun 2019 permintaan Jepang yaitu sekitar 75.000 ton/tahun. Dan menurut Kementan pada tahun 2020 Indonesia hanya mampu mengekspor 13,58% dari kebutuhan Jepang yaitu 6.790 ton kedelai edamame segar beku.

Menurut Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Kementerian Perekonomian yang dikutip dari Kompas.com, bahwa Indonesia memiliki potensi ekspor kedelai edamame sebesar 70.000 ton/tahun sedangkan kemampuan produksinya baru mencapai 6.000 ton/tahun. Hal tersebut membuat para petani di Indonesia tertarik untuk mengembangkan budidaya kedelai edamame.

Namun, budi daya kedelai edamame ini bukan berarti bebas dari hambatan. Budi daya kedelai edamame memerlukan pupuk Urea yang tinggi, bahkan 3-4 kali lipat dari dosis kedelai lokal, sehingga memerlukan biaya produksi yang mahal. Selain itu residu pupuknya juga berpotensi mencemari lingkungan. Oleh karena itu, perlu adanya alternatif pemupukan dengan pemanfaatan pupuk hayati untuk budi daya Edamame yang efisien dan berkelanjutan.

Ir. Agung Astuti, M.Si.

Penelitian yang dilakukan oleh dosen dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yaitu Ir. Agung Astuti, M.Si., Ir. Mulyono, M.P. dan Ir. Sarjiyah, MS. telah berhasil mengembangkan inovasi terkait formulasi nano pupuk hayati padat untuk bud idaya kedelai edamame yang mengandung bakteri Rhizobium sp. indigenous Tamantirto isolat A, D dan E.

Mikroorganisme tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati karena memiliki kemampuan  mengikat Nitrogen yang kompatibel dengan kedelai edamame. Riset yang dilakukan oleh Ir. Agung Astuti, M.Si., dkk ini terbukti dapat meningkatkan produksi edamame dan lebih efisien dalam penggunaan pupuk Urea, sehingga berpotensi untuk dikembangkan secara komersial dan perlu dipatenkan.

Penelusuran paten di Pangkal Data Kekayaan Intelektual Dirjen Kekayaan Intelektual (PDKI DJKI) Kemenkumham RI menemukan beberapa hasil. Di antaranya Dokumen Paten yang menjelaskan terkait formula pupuk hayati tanaman kedelai yang mengandung konsorsium berbagai macam mikrobia, Dokumen Paten menjelaskan tentang formula Biostimulan mengandung Stenotrophomonas maltophilia untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil kedelai edamame, dan Dokumen Paten menjabarkan tentang formulasi pupuk hayati yang mengandung konsorsium berbagai macam mikrobia mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk NPK kimia dan meningkatkan produksi tanaman pangan dan tanaman hortikultura.

Namun, berdasarkan ketiga Dokumen Paten terdaftar tersebut, tidak ada yang menjelaskan tentang pupuk hayati formula nano dikhususkan untuk budidaya kedelai Edamame yang mengandung Rhizobium sp., sehingga masih dibutuhkan penelitian untuk mendapatkan pupuk hayati khusus untuk budidaya kedelai Edamame.

Adapun formula pupuk hayati yang dihasilkan dalam riset yang dilakukan oleh Ir. Agung Astuti dkk, yang telah terdaftar Paten di Dirjen Kekayaan Intelektual dengan nomor S00202107455 merupakan pupuk yang berbentuk padat dengan carrier nano gambut, nano arang dan nano tulang, yang diaplikasikan 5 gram pada 1 kg benih kedelai Edamame sebelum tanam. Penggunaan pupuk nano yang berukuran kecil (1 nm = 10-9 µm) memiliki kelebihan yaitu lebih efektif menginokulasi benih kedelai Edame karena ukurannya yang halus, serta dibutuhkan dalam jumlah kecil.

Menurut Widowati (2011), Nano-arang kemampuannya 5 kali lebih kuat dan efektif dibandingkan dengan arang biasa. Pupuk hayati formula nano padat khusus untuk kedelai Edamame yang telah berhasil diformulasikan oleh Ir. Agung Astuti, M.Si.dkk yang berbahan aktif Rhizobium sp. indigenous Tamantirto isolat A, D dan E ini dapat menghasilkan polong kedelai Edamame yaitu 8,12 ton/Ha dan bisa meningkatkan hasil 91,94% dibanding kontrol dengan pemakaian pupuk Urea dosis 50%. Pupuk ini juga dapat meningkatkan kualitas produksi tanaman dan ramah terhadap lingkungan. Untuk informasi lebih lanjut, bisa hubungi lri@umy.ac.id atau mengunjungi www.lri.umy.ac.id. (ADV)