Dosen UMY Ciptakan Muyo Sunat, Alat Bantu Khitan Sekali Potong

Muyo Sunat kreasi Dr. dr. Sagiran, Sp.B (K) KL., M.Kes, dosen Program Studi Pendidikan Kedokteran Umum Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). - Istimewa
14 September 2021 05:47 WIB LRI UMY Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dr. dr. Sagiran, Sp.B (K) KL., M.Kes, dosen Program Studi Pendidikan Kedokteran Umum Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) membuat inovasi alat yang berhubungan dengan operasi bedah minor Circumcisi atau khitan, yang disebut Muyo Sunat.

Sudah seperti menjadi tradisi, sunat atau khitan bagi anak laki-laki merupakan hal yang penting dan mempunyai berbagai macam manfaat bagi kesehatan. Selain itu, khitan juga menjadi salah satu syariat dalam agama Islam. Namun, dibutuhkan keterampilan yang baik dan asistensi yang cukup banyak selama proses tindakan medis khitan, tujuannya agar diperoleh hasil potongan yang rapi, aman, efektif dan efisien.

Dalam dunia kedokteran, khususnya operasi bedah minor Circumcisi/khitan, selalu dilakukan inovasi untuk memudahkan operasi khitan.

Dr. dr. Sagiran,Sp. B (K) KL.,M.Kes adalah akademisi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY yang dalam penelitiannya berhasil membuat inovasi yang dinamakan Muyo Sunat. Berdasarkan data paten No.P00201304684 pada Pangkal Data Kekayaan Intelektual Dirjen Kekayaan Intelektual (PDKI DJKI) Kemenkumham RI, Muyo Sunat merupakan alat bantu penjepit kulup kepala penis yang berfungsi untuk memudahkan dokter memotong kulup menggunakan pemotong (gunting, pisau bedah, atau laser) dengan sekali tebas.

Muyo Sunat telah digunakan dr. Sagiran untuk program kegiatan sosial, yaitu khitanan massal yang telah dilaksanakan sejak 2013 hingga sekarang di luar Pulau Jawa. Lebih dari 10.000 anak telah mengikuti program khitanan massal yang diselenggarakan dr. Sagiran.

Berdasarkan pengalaman dr. Sagiran, yang juga seorang ahli bedah di Indonesia, ada kelemahan dalam operasi khitan manual. Di antaranya, apabila menggunakan alat pemotong yang memiliki kontrol perdarahan (seperti kauter, laser) harus menggunakan alat tambahan berupa penutup/pelindung kepala penis berbentuk seperti lonceng yang menutupi kepala penis.

Sementara kulup pada bagian luarnya dipotong dengan aman tidak mengenai kepala penis. Secara teknis hal tersebut menghasilkan tepi potongan kulup yang simetris, dan memerlukan waktu operasi yang lebih panjang. Selain itu, dibutuhkan asisten saat operasi, serta po-tensi kesulitan dalam mengon-trol perdarahan. Menurut dr. Sagiran, alat ini terbuat dari stainless steel yang terbagi dua bagian. Pertama, bagian atas berbentuk klem (penjepit berkunci) sebagai penjepit utama.  Kedua, bagian bawah berbentuk pinset anatonis yang dihubungkan pada pertengahan dan pangkalnya, sedangkan ba-gian ujungnya tidak terhubung sebagai penjepit utama terha-dap kulup penis yang akan dipotong saat tindakan khitan.

Hal yang perlu dilakukan saat khitan menggunakan Muyo Sunat, pertama, melepaskan perlengketan kulup ke kepala penis serta membersihkan smegma hingga terlihat lengkap melingkar korona glandis dan sulcus corolis. Kemudian kembalikan kulup dalam posisi menutupi glans. Tarik ujung kulup ke atas serta kunci menggunakan klem berkunci, sedangkan ujung kepala penis dijepit menggunakan pinset yang tidak berkunci yang berfungsi untuk melindungi kepala penis ketika proses pemotongan.

Kulup yang berada di antara dua jepitan tersebut merupakan bagian yang akan dilakukan pemotongan secara guillotine (lurus dan sekali potong). Setelah itu, Muyo Sunat selesai digunakan dan proses selanjutnya dikerjakan sesuai prosedur standar, seperti kontrol pendarahan menggunakan jahitan atau elektrokauter kemudian diakhiri dengan pembalutan atau sistem perawatan terbuka. Dengan menggunakan Muyo Sunat tersebut secara teknis akan menghasilkan proses khitan yang aman, cepat, efektif dan praktis. Untuk informasi lebih lanjut, bisa hubungi lri@umy.ac.id atau mengunjungi www.lri.umy.ac.id. (ADV)